Dua Kategori Hijrah

Sep 24, 2020

CARA LAIN MENDENGARKAN:

Transkrip

Banyak di antara artis-artis kita menyatakan dirinya berhijrah.

 

Alwi Shihab:

Bismillahirrahmanirrahim.

Para pemirsa pendengar di rumah. Pertama-tama saya mengharapkan kita semuanya dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, khususnya dalam Covid-19 yang sampai sekarang masih belum berakhir. Semoga Allah bisa melindungi kita, bangsa kita dan seluruh bangsa-bangsa di dunia dari bahaya pandemi ini.

Hari ini saya akan berbicara tentang hijrah. Hijrah menyangkut banyak aspek, hijrah Rasulullah, hijrah-hijrah para nabi, dan apa hikmah daripada hijrah-hijrah tersebut yang menjadi tradisi para nabi-nabi dan juga tradisi yang sering dilakukan oleh manusia biasa.

Hijrah artinya dari segi linguistik dari kata hajara, artinya meninggalkan, meninggalkan satu tempat ke tempat lain. Fisik kita berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu daerah ke daerah lain, itu yang namanya hijrah.

Hijrah juga bisa dibagi menjadi hijrah yang sifatnya material, sifatnya menyangkut hal-hal duniawi dan juga ada hijrah yang sifatnya spiritual. Sebagaimana kita ketahui akhir-akhir ini banyak di antara artis-artis kita menyatakan dirinya berhijrah. Artinya berhijrah dari kehidupan lingkungan yang kurang spiritual, menjadi lingkungan yang penuh spiritualisme.

Mereka berusaha untuk merubah jati dirinya dari yang biasanya berpura-pura dalam lingkungan yang panas, lalu kesadaran datang, langsung ingin merubah dirinya menjadi orang yang lebih baik.

Contoh-contoh hijrah di dalam sejarah, kita ingat betul hijrah Nabi Musa dari Mesir. Cerita Nabi Musa pada suatu saat dia berhadapan dengan kelompok Koptik Mesir dan kelompok Bani Israil dua di antara mereka ini satu dengan lainnya berkelahi sehingga Nabi Musa melihat bahwa salah satu di antaranya dianiaya.

Orang-orang Bani Israil dianiaya oleh orang-orang Koptik sehingga dia membantu orang Bani Israil tadi dan dia memukul lawannya dan akhirnya terjatuh dan meninggal. Nabi Musa merasa ketakutan karena khawatir akan dikeroyok, khawatir akan ada balas dendam dan sebagainya, maka dia berhijrah dari Mesir ke satu daerah yang namanya Madyan dimana dia bertemu dengan orang tua yang ceritanya panjang.

Berhijrah, kita juga mengetahui ada hijrah pendukung Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebelum Beliau berhijrah ke Madinah, kelompok muslim yang teraniaya di Mekkah diperintahkan oleh Rasulullah untuk berhijrah ke Abbesinia atau Etiopia dimana ada seorang raja Katolik Najasyi yang menerima mereka. Itu juga hijrah.

Ada lagi hijrah Nabi ke Thaif pada saat Beliau ingin menyampaikan dakwahnya di Thaif tetapi ditolak mentah-mentah dan Rasulullah mengalami bukan saja gangguan kata-kata tetapi juga dicederai oleh mereka yang ada di Thaif. Itu juga hijrah namanya.

Al-Qur’an menyampaikan kepada kita kata hijrah ini banyak digunakan di dalam Al-Qur’an. Artinya hijrah meninggalkan satu tempat, satu daerah ke daerah yang yang lain, satu keadaan ke keadaan yang lain.

Di dalam Al-Qur’an Nabi diperintahkan, “waṣbir ‘alā mā yaqụlụna wahjur-hum hajran jamīlā”. Nabi sewaktu mengalami penindasan di Mekkah, Beliau diperintahkan untuk bersabar terhadap apa yang mereka orang-orang Quraisy Jahiliah yang mencemoohkan, menuduh seorang gila, Nabi seorang yang pendusta dan sebagainya.

Allah memerintahkan bersabarlah terhadap apa yang mereka utarakan, apa yang mereka cemoohkan, apa yang mereka makikan. “Wahjur-hum”, wahjur artinya tinggalkan mereka. “Hajran jamīlā”, jadi tinggalkan secara baik tidak perlu untuk diladeni.

Juga di dalam Al-Qur’an ada ayat pendek, “war-rujza fahjur”, diperintahkan kita umat Islam dan di situ ditujukan kepada nabi untuk disampaikan wahai umat Islam, jauhilah maksiat “rujza fahjur”, jauhi maksiat.

Kalau kita mau melihat kategori hijrah ini maka ada hijrah yang semata-mata orang berpindah dari satu tempat seperti apa yang terjadi akhir-akhir ini, berpindah dari Suriah, berpindah dari perbatasan Irak ke Eropa, itu semuanya pada dasarnya disebabkan karena kesulitan hidup sehingga dia berhijrah. Ini yang dimaksud dengan hijrah yang sifatnya material, menyelamatkan diri dari situasi, keadaan yang keadaan yang mencengkam. Tapi ada juga yang spiritual, yang tadi saya sebutkan, hijrah para artis.

Hijrah para artis ini adalah digolongkan sebagai hijrah spiritual bukan untuk mendapatkan keuntungan material, tidak sama dengan hijrah orang-orang yang berpindah dari Suriah ke Eropa karena mengharapkan kehidupan yang lebih baik.

Hijrah spiritual ini banyak, contohnya di dalam Al-Qur’an kita ketahui ceritera Ashabul Kahfi ada tujuh anak-anak muda yang tidak senang dan tidak bersedia untuk mengikuti penguasa di masanya, sehingga mereka meninggalkan tempat tersebut dan berhijrah juga namanya sehingga diselamatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apa titik tolak daripada hijrah spiritual ini? Kalau kita berceritera kembali tentang hijrah Nabi, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa, hijrah itu ada dua macam, hijrah dari Mekkah ke Madinah kemarin itu kata Rasulullah ada yang berhijrah bukan disebabkan karena Allah. Ada yang berhijrah yang ingin sesuatu yang dia peroleh yang lebih baik daripada apa yang dia peroleh di Mekkah.

Dari itu, Rasul mengingatkan kita selalu dalam semua aktivitas kita untuk nawaitu kita selalu untuk karena keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Innamal a’malu binniyat”, kata Rasulullah, segala sesuatu serta segala aktivitas kita harus dengan niat tentunya.

“Wa innama likullimriin ma nawa”, dan tiap orang, tiap individu tergantung kepada niatnya kalau niatnya untuk dunia dia akan dapat dunia, kalau niatnya untuk akhira ya dia akan dapat akhirat.

“Famankana hijratuhu illallah wa rasulihi fahijratuhu illallah wa rasulihi”, barangsiapa yang berhijrah untuk Allah dan rasulnya maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah dan rasulnya.

“Waman kanat hijrotuhu lidunya yushibuha awimroatin yankihuha fahijrotuhu ilam ma hajaro ilaihi”, ada juga orang yang berhijrah dengan Nabi yang dia menginginkan kehidupan yang lebih baik karena tertindas di Mekkah dia ingin berhijrah untuk mencari peluang yang lebih baik atau mencari jodoh karena buntu di Mekkah.

Jadi, artinya hijrah yang spiritual ini, yang betul-betul dilakukan secara ikhlas untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ikhlas dalam semua ibadah kita kita mulai dengan niat yang ikhlas insya Allah kita akan mendapatkan apa yang kita harapkan. Orang yang melakukan sesuatu untuk dunia, umpamanya dia berdagang untuk memupuk hartanya, membesarkan modalnya dan sebagainya, kalau dia gunakan dengan baik maka Allah akan memberikan hasil daripada apa yang dia lakukan.

Tapi apabila dia mempunyai keikhlasan untuk seandainya dia nanti berhasil maka dia akan membagi kepada orang-orang yang memerlukan. Maka itu yang dinamakan ada keikhlasan dalam berbuat sesuatu.

Dari itu, ikhlas ini yang dituntut oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Wa mā umirū illā liya’budullāha mukhliṣīna lahud-dīna”, mereka manusia, kita semua ini tidak diminta untuk berbakti kepada Allah, untuk beribadah kepada Allah kecuali dibarengi dengan perasan tekad, ikhlas kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa apa yang diharapkan betul-betul karena mengikuti perintahNya.

Dari itu, beberapa ayat juga kita biasa baca, jangan sampai apa yang kita lakukan, apa yang kita bantu orang yang miskin, orang yang fakir, tetapi pada akhirnya apa yang kita lakukan itu hilang begitu saja disebabkan karena kelakuan kita, disebabkan karena sikap kita yang tidak menunjang apa yang kita lakukan.

“Lā tubṭilụ ṣadaqātikum bil-manni wal-ażā”, jangan sampai kamu membatalkan apa yang kamu sudah keluarkan berupa sedekah dengan “bil-manni wal-ażā” dengan menceriterakan orang, memberitahu orang lain bahwa saya sudah membantu si A dan apalagi kalau dengan kata-kata yang tidak menyenangkan bagi orang yang menerima itu.

Dari itu, di dalam Al-Qur’an diwanti-wanti kita, diperintahkan untuk betul-betul memperhatikan apabila kita berbuat sedekah, sedekahlah dengan ikhlas, kalau perlu tangan kanan yang memberi tangan kiri yang tidak mengetahui apa yang kita lakukan di luar pengetahuan orang, tidak dipamerkan.

“Qaulum ma’rụfuw”, kata-kata yang baik.

“Wa magfiratun”, dan ampunan kepada orang kadang ada yang datang meminta menjengkelkan kita, kita sapa dengan kata yang baik, kita maafkan dia.

 “Khairum min ṣadaqatiy yatba’uhā ażā”, lebih bagus dari sedekah tetapi embel-embelnya menyakitkan hati si penerima.

Jadi, hijrah spiritual ini sangat dianjurkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, oleh nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam agar kita lakukan hijrah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, hijrah dari suatu lingkungan maksiat kepada lingkungan yang baik, tetapi semuanya itu harus dengan niat ikhlas kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hijrah juga sangat bermanfaat bagi manusia. Imam Syafi’i sebagaimana kita ketahui dia berhijrah dari satu kota ke kota lain untuk menyampaikan ilmunya, berdakwah. Imam Syafi’i lahir di Palestina di Gaza, dia berpindah ke Mekkah, dari Mekkah dia ke Irak, dari Irak dia ke Mesir dan akhirnya di Mesir dia meninggal.

Dia memberikan pandangan kepada kita yang khususnya kepada anak-anak muda yang dalam keadaan sulit di satu tempat, jangan berdiam diri, tetapi dianjurkan untuk berhijrah atau bepergian.

Kalau Imam Syafi’i mengatakan bahwa dalam bepergian, dalam travel, dalam kunjungan dari satu tempat ke tempat lain, itu mendatangkan lima keuntungan-keuntungan.

Yang pertama, biasanya orang dalam keadaan galau, dalam keadaan terjepit, maka dia tidak mempunyai jalan keluar, oleh Imam Syafi’i dianjurkan berlayarlah, berpindahlah dari satu tempat ke tempat lain karena dengan itu kamu akan dapatkan lima hal. Yang pertama, kegalauan, frustrasi akan hilang kalau kita bepergian, kita akan mendapatkan environment yang baru

Yang kedua, kamu akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena dengan perjalanan kamu akan bertemu banyak orang, kamu akan mendapat peluang-peluang daripada kamu berada di satu tempat yang kamu tahu persis bahwa kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu akan dapat pengetahuan, kalau kita bepergian itu kita akan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan yang kita tahu orang yang kita temui.

Dari itu, mahasiswa dianjurkan untuk sering bepergian untuk bisa mempelajari hal-hal yang dia belum ketahui sebelumnya. Ada juga budaya, kamu akan mengetahui budaya-budaya baru kamu akan mengambil keuntungan, mengambil manfaat dari budaya-budaya yang baik yang mungkin di tempat kamu tidak kamu dapatkan. Dan yang penting adalah kamu akan mendapatkan sahabat-sahabat yang baik karena bepergian tersebut.

Nah, di episode akan datang kita akan berbicara tentang tradisi para nabi-nabi di dalam menjalankan misinya, menjalankan perintah Tuhan untuk menganjurkan hal yang baik dan mereka pada umumnya berhijrah dari satu tempat ke tempat lain.

Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.