Satu jam telah berlalu sejak upacara Pahadangu (upacara pemakaman) dilaksanakan. Upacara ini merupakan tradisi leluhur di kampungku, Umalulu – Sumba Timur. Kami percaya arwah-arwah leluhur (Marapu  yang berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”) sebagai lindi papakalangu–ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya. Kejadian-kejadian alam yang luar biasa seperti gempa bumi/kebakaran besar, kami yakini terjadi karena ada kekuatan gaib seperti kemarahan para dewa atau para marapu karena diabaikan atau dikarenakan kesalahan manusia itu sendiri sehingga menimbulkan bencana.

“Kita pulang saja Tina,” suara Theresia memecah kebisuan kami. Yumi dan Selly menggeleng. “Kita tidak boleh meninggalkan upacara, itu tidak sopan,” aku mengingatkan There agar ia kembali tenang. Memang dalam upacara ini kami dapat merasakan suasana magis. Para tamu yang datang akan membawa kain kapan, sarung, selimut dan ikat kepala. Pahapa dan mangejingu dipersiapkan, gong dibunyikan disertai lagu duka dan ludu ratu. Pemimpin upacara pun akan mengadakan hubungan dengan arwah dari orang yang telah mati tersebut. Belum lagi saat jenazah dimasukkan dalam kabangu (keranda) secara duduk dengan lutut dilipat dan bertopang dagu serupa janin dalam rahim ibu. Semua kain bawaan orang yang datang melayat diselubungkan pada jenazah.

“Aku takut Tina, mana hari sudah mulai sore. Bagaimana kalau nanti kita kemalaman?” desak There kepada kami bertiga. “Tenanglah, nanti kita pulang bersama-sama dengan yang lain. Kau tak usah terbawa cerita Apu tempo hari mengenai arwah gentayangan yang ia ceritakan. Sudah pasti ceritanya itu hanya kebohongan,” ujarku yang mencoba menenangkan There. “Hush .. Jangan berisik! Sebentar lagi jenazah akan dimakamkan,” ucap Yumi.

Ketika saat pemakaman tiba, jenazah akan diarak oleh para pengawal yang saat itu sudah berada dalam keadaan tidak sadar (trance) sehingga harus dipapah. Saat jenazah tiba di lubang kuburan, tubuhnya akan didudukkan menghadap matahari terbenam. Setelah itu para kaum keluarga melemparkan benda-benda berharga ke dalam lubang kubur sebagai bekal untuk arwah dari jenazah tersebut. Upacara pemakaman kemudian ditutup dengan upacara perpisahan antara si mati dan kaum kerabatnya yang hadir disana. Dalam upacara ini kembali dikorbankan seekor kerbau. Namun, upacara pemakaman di kampung kami ini tak berhenti sampai di sini. Empat tahun kemudian akan kembali dilakukan upacara perpisahan terakhir dengan arwah si mati. Ini merupakan tanda bahwa hubungan dengan alam nyata sudah putus dan ia telah menjadi marapu seperti arwah leluhur lainnya.

 

 

Disadur dari Marapu : Agama dan Identitas Budaya Orang Umalulu, Sumba Timur (Purwadi, UI Depok 2012)

Foto Ilustrasi : duniart.com