Apa dan Mengapa Islam Wasatiyya?

May 11, 2020

CARA LAIN MENDENGARKAN:

Transkrip

Akhir-akhir ini, di negara kita ini ada kelompok-kelompok yang menganggap bahwa pandangan keagamaan umat Islam di Indonesia ini tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan hadis.

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…

Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dunia Islam akhir-akhir ini, mempopulerkan kembali istilah Islam wasatiyya. Karena ada kelompok-kelompok tertentu yang tidak nyaman kalau memberi predikat Islam moderat atau non-moderat karena dianggap bahwa Islam itu sudah tidak ada, tidak perlu untuk diberi predikat. Islam adalah satu.

Maka pakar dan ini yang sekarang disosialisasikan oleh para tokoh-tokoh muslim di dunia adalah Islam yang tidak ekstrem. Dan kalau dikatakan tidak ekstrem berarti Islam yang moderat, tetapi karena moderat tidak semuanya bisa menerima maka mereka kembali kepada Al-Qur’an dan mendapatkan ayat Al-Qur’an yang bisa dijadikan predikat bagi Islam.

Di antara sekian banyak kelompok yang semuanya mengaku bahwa Islam merekalah yang paling benar. Di dalam salah satu ayat di dalam Al-Qur’an ada ayat yang berbunyi, “Wa każālika ja’alnākum ummataw wasaṭal”, demikian kami telah jadikan kalian umat Islam sebagai umat yang wasat, yang bisa diartikan di tengah dalam pengertian di tengah di antara dua ekstremitas.

Dua hal yang keduanya tidak diinginkan untuk dipredikatkan kepada Islam yang ekstrem dan atau yang berlebihan atau yang berkekurangan atau dengan istilah yang populer adalah yang ekstrem dan yang liberal atau yang menggampangkan agama atau yang melebihi daripada porsi ekstrem artinya melebihi porsi yang sewajarnya.

Maka Islam yang dianjurkan atau yang diberi predikat oleh Al-Qur’an adalah umat Islam yang berada di tengah. Wasat artinya tengah atau yang terbaik dan memang ada ungkapan bahwa sebaik-baik sesuatu itu yang berada di tengah.

Tidak berarti secara matematis tetapi yang berada di tengah di antara dua ekstrem. Kita umpamanya mau mengkaji soal ibadah, ada ibadah yang ekstrem dalam pengertian sangat memperhatikan ibadah sehingga waktu-waktunya terlalu banyak dipergunakan untuk ibadah.

Itu yang dianggap bahwa ekstrem dalam melaksanakan ibadah. Tapi ada juga yang memudahkan, menggampangkan agama, sehingga Islam tidak mau menganjurkan untuk berlebihan, tetapi juga tidak mau membiarkan, menggampangkan agama maka di tengah-tengah yang artinya jangan dipersulit tetapi jangan menggampangkan.

Dari itu, Al-Qur’an beberapa ayat menggambarkan betapa Allah Subhanahu wa ta’ala, betapa Al-Qur’an tidak menginginkan agama ini diturunkan untuk mempersulit umat Islam atau umat manusia.

Di dalam konteks puasa umpamanya banyak kelonggaran-kelonggaran yang diberikan. Sampai Al-Qur’an mengatakan, “…yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra…”, Tuhan menciptakan manusia dengan ketentuan-ketentuan ibadah dan anjuran-anjuran, instruksi-instruksi, tidak untuk mempersulit kehidupannya, tetapi justru mau mempermudah.

Dan satu contoh dimana Tuhan menunjukkan kemudahan ganjaran bagi mereka yang berbuat baik. Mereka yang berbuat baik dijanjikan dengan dua kali lipat ganjaran, tetapi mereka yang berbuat kejahatan hanya satu saja setimpal dengan kejahatannya, siksaannya.

Artinya apa? Tuhan mau memberikan peluang bagi umat Islam khususnya yang mengikuti ajaran Islam untuk berbuat baik dan menghindari ke dan menghindari keburukan, tetapi perbuatan baik itu mendapatkan dua ganjaran.

Dan di samping itu juga ungkapan yang fattaqullaha mastatho’tum, Al-Qur’an juga menganjurkan bahwa kita bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan kita.

Bahkan di ayat lain, “Lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā”, Allah tidak sama sekali akan memberatkan dengan permintaan-permintaan beribadah dan sebagainya kecuali sesuai dengan kemampuan manusia.

Hal yang penting untuk kita ketahui bahwa wasatiyya ini adalah suatu sikap yang padanannya adalah moderat. Jadi bukan ekstrem, ekstrem dalam beragama, ekstrem dalam menyikapi masalah dan ekstrem dalam memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an. Sehingga sikap ekstrem tadi menganggap bahwa mereka yang tidak sesuai dengan pandangannya adalah mereka yang bukan Islam yang sebenarnya.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita ini, ada kelompok-kelompok yang menganggap bahwa pandangan keagamaan umat Islam di Indonesia ini tidak sesuai dengan ajaran Alquran dan hadis karena mereka menganggap bahwa banyak hal-hal yang baru yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi pada masa lampau.

Nah, hal ini menjadikan kelompok ini seakan-akan bertindak sebagai Tuhan yang bisa memilah-milah siapa yang benar dan siapa yang keliru. Ini yang kita maksudkan dengan kelompok yang ekstrem, yang mau menuding pihak lain dengan kesalahan-kesalahan dan mau mendikte kemauanNya dan mendikte pandanganNya untuk selalu menjadi pengikutNya.

Islam pada hakikatnya itu selalu berada di tengah, dalam pengertian dia berada biasanya orang yang di tengah itu yang objektif, yang bisa melihat dari kiri dan ke kanan dan dia bisa bertindak sebagai seorang kalau pertandingan bola sebagai referee, dia tidak memihak ke kiri, dan tidak memihak ke kanan, tidak memihak yang berlebihan dan juga tidak memihak yang berkekurangan sehingga selalu berada di tengah.