Disintegrasi Bangsa, Persekusi, dan Rapuhnya Hubungan Bertetangga

Dec 5, 2019

Bukankah kerekatan bertetangga adalah modal sosial bangsa Indonesia? Apabila solidaritas sosial lemah, dampaknya akan sangat signifikan pada disintegrasi bangsa. Edisi kali ini membahas bagaimana hubungan bertetangga akan sangat berpengaruh terhadap integrasi bangsa.

CARA LAIN MENDENGARKAN:

ESTER JUSUF

Aktivis sosial dan hukum. Pada tahun 2002, ia menerima Yap Thiam Hien Award, penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Saat ini beliau aktif dalam mengupayakan literasi di Indonesia melalui Yayasan Rebung Cendani.

TRANSKRIP

Waktu googling tentang  topik disintegrasi bangsa saya temukan pendapat Bang Todung Mulya Lubis. Dia bilang persekusi itu seperti bom waktu, bisa jadi penyebab disintegrasi bangsa. Wah.. langsung tergambar di benak saya banyak sekali kasus persekusi. Ada banyak kasus lama. Banyak juga kasus baru yang tidak selesai.

Menurut Kontras ada 3 tren besar persekusi tentang kebebasan berpendapat: Pelarangan, intimidasi  dan pembubaran paksa. Kasus terbanyak di Jakarta dan Jawa Barat.[1] Aksi persekusi dapat menimbulkan rasa takut.  Aturan  bahwa tiap warga negara Indonesia  bebas untuk berpendapat dan berekspresi dijamin dalam Undang-Undang:  Pasal 28 (E) UUD 1945.  Pasal itu mengatur bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.

Dalam prakteknya hukum kerap lumpuh, terutama di masyarakat yang minim pengawasan. Jadi masyarakat  sendiri harus aktif  membangun sistem pengawasan, pengamanan dan sistem sosial yang sehat. Sistem itu yang oleh Undang Undang disebut sebagai Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta.

Nah di sini lahir konsep sistem ketetanggaan.  Teman SMA saya sekitar 4 bulan lalu mendadak kontak. Dia resah. Jadi saat antar jemput anaknya di sekolah ia melihat ada satu ibu, orangtua murid sedang mengamuk. Ibu ini teriak-teriak, memukuli anak perempuannya, menjambak rambut anaknya. Semua yang menyaksikan diam. Teman saya juga diam. “Gw takut”, kata teman saya. Padahal ada satpam di situ. Ia lalu menyampaikan ke guru BP.

Guru BP malah curhat. Beberapa kali anak perempuan itu lebam. Pihak sekolah juga sudah mencoba datang silaturahmi ke keluarga siswa. Yang didapati hanya pintu rumah terkunci. Para tetangga tidak tahu siapa penghuni rumah itu. Ada satu tetangga yang bilang ‘denger-denger anaknya 5, Bapak Ibunya orang berpendidikan tapi  gak gaul. Tertutup sikapnya. Anak-anaknya pada di-‘homskulingin’.

Tapi pihak tetangga tidak mau ikut campur lebih jauh. Sama juga dengan pihak sekolah, mereka tidak mau ikut campur lebih jauh. Mereka juga tidak mau perkara itu sampai ke polisi. “Nanti repot, nama baik sekolah jadi sorotan”, begitu ujar salah satu guru. Ucapan itu dengan intonasidiberi penekanan, isyarat agar teman saya tidak membawa urusan itu ke mana-mana. Keberpihakan pada anak hanya sekedarnya. Yang penting urusan masing-masing beres.

Lemahnya solidaritas sosial ini dalam skala besar dampaknya signifikan pada disintegrasi bangsa. “Bu, anak saya kelas III SD. Dia cerita gini ke saya. Temennya bilang ‘aku gak boleh temenan sama kamu, Bunda melarang soalnya agama kamu beda’…” demikian ujar seorang . Ibu ini  tinggal di daerah Kranggan.

Ada lagi kisah yang buat saya terasa miris, ini soal membuat pustaka anak-anak. Kejadiannya di Depok. Teman saya awalnya semangat sekali membuat sebuah Taman Baca di rumahnya. “Mbak, nanti tak bangun saung cilik ngarep omah”. Penuh semangat teman saya membayangkan anak-anak tetangganya bisa datang ke saung kecilnya. Teman saya ini sewaktu kecil hidup miskin. Orangtuanya tak pernah beli buku cerita atau majalah.

Saya tungguh sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan. Tak ada kabar. Setelah saya kontak nadanya sudah berubah. Ia menghindar, malu. Ternyata ia tak berani membuka Taman Baca di rumahnya. “Sudah ada Taman baca partai  dekat rumah. Saya gak berani. Mereka orang-orangnya fanatik. Keras.” ujarnya. Saya tak habis pikir. Tak ada alasan takut. Agama kawan saya ini sama dengan orang-orang partai yang disebutnya fanatik dan keras.

Rasa takut, enggan ikut campur, tidak kenal tetangga, ini masalah kebangsaan yang serius. Saya ingat pengalaman suatu siang saat berjalan kaki dengan bocah saya. Bocah saya usianya baru 7 tahun. Bocah ini  mengamati bahwa ada sebagian ruko yang memasang pengamanan ekstra. Mereka memakai tralis besi yang tebal untuk menutupi pintu, jendela dan atap ruko mereka. Mirip krangkeng. Waktu saya sampaikan kejadian kerusuhan rasial 13-15 Mei bocah ini kaget. Banyak pertokoan yang dagangannya habis dijarah. Sebagian toko dibakar massa. Bocah kecil itu tak habis pikir mengapa orang-orang Tionghoa yang jadi sasaran kerusuhan.

Saya lalu cerita tentang pentingnya solidaritas sosial. Kenal tetangga, punya kebiasaan saling sapa, diskusi soal kepentingan bersama itu penting. Kisahnya tentang Pak Hauw Ming, Ketua RW di komplek rumahnya. Saat kerusuhan di Jakarta mulai menyebar, ia mengumpulkan semua Kepala Keluarga warganya. Mereka semua berunding dan bersepakat untuk melawan perusuh, melindungi wilayah mereka dari serangan perusuh. Tak ada satu pun warganya yang menolak. Jadi pada saat para perusuh datang, semua warga bersatu, semua melawan keras. Para perusuh kewalahan, tak sanggup menembuh pertahanan wilayah RW yang dipimpin Pak Hauw Ming. Itu soal keamanan.

Banyak persoalan lain dapat diselesaikan jika orang terbiasa berpikir dari sudut kepentingan bersama, kepentingan bangsa. Cara berpikir seperti ini disebut Wawasan Nusantara: cara pandang bangsa Indonesia tentang dirinya. Kalau semua orang berpikir dari sudut kebangsaan, banyak masalah dapat teratasi. Lingkungan aman dan teratur. Masalah kesehatan pribadi, komunitas dan lingkungan pun dapat dibahas.

Masalah paling sering muncul dalam kehidupan bersama adalah urusan sampah. Ada orang yang suka kebersihan, ada juga orang yang tak peduli. Ada juga orang yang hanya peduli pada kebersihan di dalam rumah atau halamannya. Tempat sampahnya menggunung, berbau amis busuk. Bau akan semakin parah jika ditambahi kebiasaan membuang sampah rumah tangga tanpa dibungkus. Misal sisa tulang dan kepala ikan, udang atau kotoran hewan. Lalat dan tikus berpesta setiap hari. Biasanya kacoak dan kelabang juga ikut hadir. Jelas ini mengganggu kesehatan fisik dan psikis manusia. Urusan gunung sampah dan penyakit ini akibatnya biasanya meluas. Teguran belum tentu mempan. Kadang yang ditegur malah lebih galak.

Parkir mobil terutama dalam komplek perumahan terjadi di mana-mana. Lebar jalan terbatas, para penghuni semua ingin memarkir mobilnya dekat dengan rumah masing-masing. Tetangga kerap jadi jengkel. Walau jalan di depan rumahnya bukan milik pribadi, tapi ada rasa tak suka jika ada mobil orang lain diparkir di depan rumahnya. Pembicaraan tentang penggunaan fasilitas jalan ini penting dilakukan. Dialog yang terjadi akan mencegah kemacetan, membentuk keteraturan,  menciptakan sistem  lalu lintas dan sosial yang nyaman.

Tapi memang tak gampang membangun sistem. Pertama urusan legalitas. Ternyata banyak orang punya tempat tinggal tinggal lebih dari satu. Apalagi  di komplek perumahan,  kos-kosan, apartemen atau rumah susun. Banyak yang secara legal alamatnya berbeda antara di KTP dan alamat tempat tinggalnya. Pernah ada kejadian di sebuah komplek perumahan di daerah Banten. Penghuni rumah 1 kompleks kaget saat menyadari ternyata ada sebuah pabrik besar sedang dibangun di belakang tembok, menempel dengan komplek mereka. Warga komplek ini cemas dengan kehadiran tetangga baru ini. Mereka komplain keras. Mereka kuatir tetangga baru itu  akan menghadirkan pencemaran lingkungan  melalui limbah produksinya, limbah cair maupun padat.

Saat warga komplek mulai mengadvokasi kasus ini, mereka berpikir hendak melawan secara hukum. Saat itu  mereka baru menyadari satu hal penting: Mereka semua bukan penduduk wilayah itu. KTP mereka KTP, bukan Banten.

Hal kedua, ternyata sebagian besar warga komplek yang ramai bersuara keras menentang pendirian pabrik ternyata menghilang pada saat harus melakukan mediasi, perundingan atau datang menghadap ke instansi-instansi pemerintah. Mereka lebih suka menghindari masalah.

Memang membangun komunitas yang sehat tidak mudah. Watak patologis mementingkan diri sendiri, lari saat berhadapan dengan masalah, tak mau terlibat adalah hal yang umum di mana-mana. Semangat dan perasaan kebangsaan ini mesti dibangun terutama dengan perubahan pikiran, cara pandang pada masalah.

Banyak orang orang dewasa telah lupa sejarah bangsa. Sejumlah besar orang dewasa terakhir ikut upacara bendera adalah saat lulus SMP atau SMA. Mereka pun telah lama berhenti membaca hal-hal terkait kebangsaan. Jarang ada yang membicarakan topik itu di keseharian mereka. Banyak orang tahu  dasar negara kita adalah Pancasila, namun kebingungan saat ditanya apa itu Pancasila, apa kaitan Pancasila dengan kehidupan keseharian mereka.

Membiasakan komunitas memikirkan topik-topik tentang masalah bangsa adalah jalan yang sangat penting. Bagaimana caranya? Pertama, dengan menghadirkan banyak literatur kebangsaan, termasuk media massa dengan skala lokal maupun nasional. Ini penting untuk membuat kita tidak terasing dengan kemajuan bangsa, dengan semua proses ekonomi, sosial, politik yang ada di bangsa kita dan di sekitar kita.

Sejumlah besar orang sudah tak peduli pada hal-hal di luar dirinya dan keluarganya. Mereka hidup dalam pola keseharian yang rutin: bangun pagi, pergi bekerja, pulang malam hari, istirahat, main game atau gadget dan tidur. Bangun pagi, masak, antar anak sekolah, belanja, pulang masak, jemput anak sekolah, urus anak, urus rumah dan tidur. Itu sehari-hari, puluhan tahun. Hari Sabtu Minggu digunakan untuk istirahat menghibur diri dari rutinintas yang dirasa membebani hidup mereka. Jangankan berpikir tentang bangsa, memikirkan orang lain di luar diri mereka pun tidak. Tetangga? Wah… saya tidak kenal.  Tak heran jika kekuatiran Bang Todung Mulya Lubis soal disintegrasi bangsa dan persekusi jadi sangat beralasan.

Beberapa petugas sekuriti di malam hari berkisah. Mereka rata-rata dari keluarga tak mampu. Menjadi sekuriti adalah pilihan dalam keterpaksaan. Kecerdasan kurang, tidak diterima bekerja di mana-mana, bukan lulusan sekolah yang bermutu. Sekuriti dirasa satu-satunya pekerjaan yang mereka bisa. Mereka biasa tampak gagah dengan seragam selaku petugas keamanan. “Upah mepet, bini ngeluh apa-apa mahal. Saya juga lapar. Badan makin lama makin lemes”, keluh mereka. Tubuh mereka memang tampak mulai mlorot dan wajah tampak tua. Mereka harus berjaga di malam hari.Awalnya semangat, tapi dampak pada penurunan kesehatan fisik berlangsung secara pasti. “Saya gak kenal tetangga. Pagi sampe sore saya istirahat, remek badan. Malam saya kerja lagi.”

Tak heran banyak rumah tetangga yang tampak selalu tertutup, seolah tak berpenghuni. Dalam realitanya memang banyak tetangga yang invisible, tak terlihat. Selain komunitas sekuriti, banyak orang juga mulai ‘hidup’ di malam hari. Sopir mobil online, PSK, bartender, DJ, pedagang sate keliling , komunitas lesehan, nelayan, pedagang sayuran, pekerja hotel … komunitas ini sering tak tampak di pagi –sore hari.

Ada komunitas lain  yang memang kerap disembunyikan. Banyak keluarga yang malu karena anggota keluarganya difabel, sakit jiwa atau pengangguran. Mereka disembunyikan demi nama baik keluarga. Misal perempuan hamil di luar nikah,  orang yang masuk DPO, orang yang dikejar-kejar hutang, orang-orang yang punya masalah dengan hukum, anak-anak yang sedang diperebutkan hak asuhnya, para imigran ilegal.

Ada juga orang-orang yang punya masalah sosial dan keamanan. Misalnya orang yang untuk sementara waktu menghindar karena berpindah agama atau sedang dipaksa kawin dengan orang yang tak dikehendaki.  Beberapa kali kita mendapati kasus orang-orang yang disekap karena berbagai alasan. Mereka ada, tapi sehari-hari tak tampak dalam kehidupan bermasyarakat. Ini belum termasuk para lansia atau orang sakit yang tak punya kemampuan fisik untuk keluar rumah sendiri tanpa didampingi.

Jadi jangan heran jika pada data kependudukan berdasarkan KTP atau Kartu Keluarga satu wilayah tampak seperti padat penduduk, tapi realitasnya adalah wilayah yang sunyi.Atau sebaliknya: tampak padat manusia tapi semua tidak tercatat secara administrasi kependudukan.  Penduduknya tersembunyi atau tinggal di wilayah lain. Perpindahan penduduk bisa terjadi sangat cepat atau tak terlihat.

Banyak orang yang kehadirannya tak disadari. Misalnya petugas pembersih rumput, pedagang makanan, petugas kebersihan, tamu para asisten rumah tangga, buruh bangunan, orang kurang waras, pengamen, pengemis, petugas parkir. Orang yang dianggap berbeda kelas sosial secara ekonomi sering luput dari penglihatan.

Luputnya banyak hal tentang tetangga-tetangga kita dari perhatian kita mungkin adalah bom waktu. Bom waktu berkembangnya pikiran doktrin terorisme, rasialisme, fanatisme buta, budaya kekerasan dan persekusi, bullying atau peredaran narkoba atau penyakit menular dan perusakan lingkungan. Semua itu disintegratif dan melemahkan kekuatan bangsa.***

 

[1] “Aksi-Aksi Persekusi yang Mengancam Indonesia”, https://tirto.id/cJ9Q