Sore itu saya ditemani secangkir kopi hitam, beserta si Surin – salah satu jawara di wilayah Ciomas, Banten. Dalam percakapan kami, ia melemparkan satu kelakar yang membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal. “Nih jang, ada seorang jawara yang bepergian ke luar kota. Ia naik bis ber-AC. Tidak berapa lama dalam bis, si Jawara yang norak itu kaget karena ia merasa ada hawa dingin yang bertiup di tengkuknya. Sembari siap mengambil golok yang terselip di pinggangnya, ia pun berkata dengan suara keras, “Hei, siapa ini meniup-niup dari belakang? Kalau berani keluar! Jangan sembunyi-sembunyi!” para penumpang dan awak bis pun merasa kaget melhat tingkah laku si Jawara. Kemudian, demi menjaga kenyamanan penumpang, seorang kondektur menghampiri Si jawara dan berusaha memberinya pengertian dengan berkata, “Bang, itu mah AC (Ase).” Si Jawara dengan suara menggelegar berkata, “Mau si Ase, mau si akhmad, kalau berani keluar!.”

Setelah bercerita mengenai jawara lucu itu, pembicaraan kami selanjutnya mulai serius. Surin membagikan kehidupan masa lalunya. Surin kecil rupanya adalah anak yang hidup dalam kemiskinan dan kebodohan. Fisik yang terlihat kecil tak jarang membuatnya sering menjadi bahan ejekan teman-temannya. Kala itu Surin sering meratapi nasib. Dalam benaknya ada tekat yang kuat, kelak ia harus dihormati. Ia merasa harus melakukan sesuatu agar ia bisa menengahkan kepala ketika berhadapan dengan orang lain. Niat tersebut akhirnya ia tunaikan dengan pergi berguru ilmu kebatinan.

Kini, orang tidak lagi sembarangan kepadanya. Surin menjadi disegani dan menjadi jawara yang terkenal di wilayah Ciomas. Ke-jawara-annya mendatangkan rejeki, ia pernah bekerja menjadi kuli dan penyedia jasa keamanan di daerah Jambat Batu dan Rawa Jitu, pelabuhan karang hantu – kabupaten Serang. “Waktu itu saya tidak mengerti, kenapa ditawari jadi kuli, tapi disuruh membawa golok dan pisau. Tidak tahunya malah disuruh bertarung. Kali itu saya memiliki belasan anak buah yang saya bawa ke Karang Hantu.”

Jawara menjadi semacam simbol kekuatan bagi orang yang mempekerjakannya. Pemilihan umum, pemilihan kepala daerah dan pemilihan kepala desa menjadi momen yang penting bagi Surin, karena pada masa-masa itu banyak proyek yang harus ia kerjakan. Ia biasa dijadikan sebagai tim sukses dari partai, calon anggota legislatif, calon bupati, dan calon kepala desa. Ia menjadi jawara dari orang yang didukungnya. Tugas utamanya adalah berkampanye dan memastikan tidak ada kecurangan dari lawan politik pihak yang ia dukung. Beberapa malam menjelang hari pencoblosan pemilihan kepala desa, ia dan anggota timnya harus berpatroli ke pelosok desa untuk menjamin tidak ada polotik uang ataupun intimidasi dari pihak-pihak tertentu.

Surin menempuh hidup sebagai jawara agar ia merasa berarti dan dianggap berarti oleh orang-orang di sekitarnya. Sepertinya hal itu berhasil, karena ternyata kemudian surin sangat berperan bagi masyarakatnya. Orang-orang disekitarnya banyak menggantungkan hidup mereka pada Surin.

Prinsip seorang jawara kata Surin, mereka tidak mencari masalah akan tetapi mereka tidak akan lari jika ada masalah, “jadi maunya musyawarah atau mujadalah (kekerasan)? Kalau musyawarah itu yang saya cari. Kalau mujadalah saya tidak akan lari.”

Disadur dari : Studi mengenai keragaman fenomena kejawaraan dalam masyarakat Banten, Herman Hendrik (2008, UI depok)

Foto Ilustrasi : amangkuratprastono.blogspot