Siang itu, penduduk kampung memadati tepian sungai Simalumung. Aku pun mendekat dan mencoba cari tahu apa yang sedang terjadi di tempat itu. “Jum, ada apa ini ramai betul?,” tanyaku. “Ah, kau tak tahu? Sebentar lagi ritual Dolop akan dimulai,” jawab Jumilah dengan bersemangat. Tak hanya Jumilah yang bersemangat, para penonton yang ada di pinggiran sungai pun tak kalah semangat. Bahkan ku lihat Badrun dan kawan-kawannya memanjat pohon di tepi sungai supaya bisa melihat ritual ini dengan jelas.

Pertikaian antara Bang Topa dan Bang Husen memang tak kunjung usai. Bang Husen merasa sangat yakin bahwa Topa-lah yang membunuh kambing peliharaannya dengan memberi racun ke dalam air minumannya. Sementara Topa tak kalah garang, ia menolak tuduhan Husen salah alamat meskipun saat itu ia berada di tempat yang salah dan pada waktu yang salah sehingga para saksi memberatkan dirinya.

Uok (pemimpin ritual) Sunan berdiri gagah dihadapan para penonton. Dialah yang akan memimpin ritual yang sudah menjadi tradisi turun-menurun di kampungku ini. Beras kuning dan telur sudah disiapkan, kemudian ditebarkan sambil Uok membaca doa-doa dengan tujuan memanggil tujuh dewa yaitu dewa angin, air, hujan, tanah, penunggu padi, penunggu siang, dan penunggu malam.

Setelah Uok selesai memimpin doa, ia pun memberi aba-aba kepada Bang Toha dan Bang Husen untuk bersiap-siap pada masing-masing bambu yang telah ditancapkan ke dalam sungai. Saat Uok menurunkan tangannya, Bang Toha dan Bang Husen pun menyelam ke dalam sungai. Sejak turun-termurun, kami sangat percaya bahwa saat menyelam pihak yang bersalah akan dikerumuni oleh gigitan ikan-ikan serta serasa banyak gelombang air yang menghantamnya.

Menit demi menit pun berlalu, para penonton menunggu dengan was-was siapa yang akan muncul lebih dulu karena siapa yang muncul lebih dahulu dengan kondisi lemas disertai darah yang keluar dari hidung dan telinganya, dialah yang dianggap bersalah. Kugenggam erat tangan Jumilah karena aku merasa roh maut sedang mendekati Bang Toha dan Bang Husen, aku takut salah satu diantara mereka kehabisan napas di dalam sana.

Saat mata penonton tak beranjak menatap kedalaman sungai, Bang Husen pun muncul ke permukaan dengan badan lemas dan hampir saja pingsan. Para penonton pun tertawa sebagai bentuk ejekan kepada orang yang dianggap berbuat salah. Secara adat, Bang Toha diputuskan tak bersalah. Tetapi, beberapa hari usai ritual Dolop, Bang Husen tetap melanjutkan gugatannya kepada pihak kepolisian.

 

 

Disadur dari : Ritus Pertukaran Di Hulu Sembakung (Desa Labang) – Kalimantan Utara: Kajian Mengenai Negoisasi Batas Sosial Orang-Orang Di Perbatasan Negara. Penulis : Puji Hastuti (Depok UI, 2014)
Foto Ilustrasi : Tribunnews