Namaku Raya. Aku bekerja sebagai bidan di Puskesmas Seroja. Delapan tahun lalu setelah menempuh pendidikan di Jakarta, aku pulang ke Palangkaraya dan mengabdi di kota kelahiran.

Kali ini aku ingin bercerita tentang pasienku yang bernama Isna. Selama masa kehamilan, Isna selalu memeriksakan kandungannya di tempatku. Tetapi karena ia bagian dari masyarakat adat, ia juga memeriksakan kandungannya ke bidan kampung yang telah dipercayai sedari dulu.

Bagi orang Dayak Ngaju kehamilan adalah kehendak alam dan amanah Tuhan. Bayi dan ibu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan; ibu diumpamakan sebagai bumi dan bayi sebagai tanaman yang tumbuh di atasnya. Oleh karena itu, merawat ibu yang hamil sangat penting dilakukan demi pertumbuhan bayi di dalam kandungan ibu.

Memasuki usia 8 bulan, bayi Isna sempat terdeteksi sungsang. Sebagai bidan yang hanya memiliki pengalaman medis, vonis melahirkan dengan cara caesar sudah saya sampaikan kepadanya agar kelak ia mempersiapkan diri atas kemungkinan tersebut. Tetapi Isna dan keluarga pantang menyerah, mereka percaya bahwa ada aturan-aturan alam yang harus dipenuhi agar bayinya dapat kembali ke posisi normal.

Dalam kunjungannya ke bidan kampung, Isna pun menjalani beberapa ritual urut kandungan agar bayi dapat kembali ke posisi normal. Setelah selesai, bidan kampung itu pun memerintahkan agar membetulkan letak-letak barang di rumah maupun yang ada di luar rumah, “bidan nyuhuu kea, mambujur kare, banda-banda hung huma je purung parang[1],” ujar Isna.

Seminggu menjelang perkiraan waktu bersalin, halaman rumah Isna dibersihkan, ruangan dalam rumah dirapikan dengan memindahkan barang-barang seperti meja atau lemari. “ji minggu hindai manak, ikei uras marasih-rasih huma, manapas kare saprai, taplak, kalambu.. mahamen.. mun.. uras.. rigat.. kare.. ewau.. macam-macam[2]”.

Dan bila saat persalinan tiba, Isna diwajibkan untuk memohon maaf pada kerabat terdekat seperti : ayah, ibu, ibu mertua, ayah mertua dan suami dengan cara mencium tangan agar persalinan berjalan lancar.

Akhirnya bayi Isna pun terlahir normal dan sempurna. Sebagai ritual penutup dari seluruh rangkaian persalinan, keluarga Isna mengadakan upacara Tampung Tawar yang dilakukan setelah tanggalnya tali pusar bayi. Dalam upacara ini, bayi dimandikan oleh bidan kampung dengan menggunakan daun sawang (daun berwana merah) sambil mengucapkan mantra yang berisi pesan dan petuah agar si bayi kelak menjadi manusia yang berguna dan berbakti bagi kedua orangtua. Setelah dimandikan, bayi diletakkan diatas kain panjang yang disusun sebanyak tujuh lapis dan kemudian diberi tampung tawar, yaitu percikan air bunga-bungaan yang wangi dan dioleskan darah ayam segar di keningnya.

Seringkali kepercayaan orang Dayak Ngaju tak dapat dipahami secara dunia medis. Bagi saya secara pribadi, apa yang kita yakini akan membuat kita menjadi seperti apa yang kita yakini. Inilah Indonesia!

 

[1] Bidan meminta kita membetulkan letak barang-barang di rumah yang malang melintang.

[2] Seminggu sebelum melahirkan, kami semua bergotong-royong membersihkan rumah seperti mencuci sprei, taplak meja, kelambu. Malu rasanya kalau semuanya dalam keadaan koto dan bau

Disadur dari  : Disertasi persalinan dan kepercayaan orang dayak ngaju di palangkaraya kalimantan tengah, Diana Hamidah Sofyan.

Foto Ilustrasi : brilio.net