Perjalanan ke kampung Segamai (Provinsi Riau) ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagiku. Sambil mengumpulkan data untuk penelitian akhir, aku mulai mengamati perilaku penduduknya.

Salah satunya Pak Muhdin yang rumahnya aku kunjungi, dia tidak tahu untuk apa membeli sofa dan lemari, “Awak tak terlalu suka duduk di sofa itu. Awak suka begini inilah. Duduk di lantai, ngopi-ngopi, cakap-cakap, kadang liat TV. Ya macam mana rumah semen tapi tak ada sofa di dalamnya. Lemari itu juga awak beli tak tahu pula untuk diisi apa. Ya, beli-beli sajalah. Rumah sudah bagus, dalamnya kosong tak ada isi. Apalah kata orang nanti.” Belum lagi Bu Indah yang memiliki mesin cuci, tetapi malah memilih mencuci di sungai bersama para wanita lainnya, “Mesin cuci jarang awak pakai. Awak lebih suka mencuci di pari bersama kakak atau tetangga lain. Awak mandi sekaligus mencuci. Entah mengapa seperti kurang bersih rasanya kalau tak cuci dengan tangan sendiri.”

Ternyata informasi yang mereka terima dari televisi dan radio membuat mereka ingin sekali menjadi orang “kota”. Para penduduk berlomba-lomba memiliki barang-barang berharga, juga penampilan yang bercirikan orang kota.

Belum lagi para wanita yang mencontoh penampilan artis-artis kota pujaan mereka. Itu sebabnya, mereka tidak akan berpikir dua kali untuk membeli pakaian yang mereka inginkan. Meskipun hargai pakaian tidak tergolong murah karena harganya setara untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup beberapa hari. Bagi Lisa, salah satu gadis desa yang kutemui, berpendapat bahwa penampilan harus menjadi nomor satu. “Kalau di rumah tak ada yang lihat. Tak apa gunakan kaos dan celana pendek atau jelek seadanya. Tapi kalau ke pasar harus dandan. Rambut harus disisir atau pakailah kerudung rapih. Kalau perlu pakai pula parfum agar wangi. Banyak laki-laki di pasar juga. Tak hanya orang Segamai, orang PT (perusahaan) juga turun ke pasar tuh biasanya. Nanti mereka tak tertarik pada awak kalau tak terlihat cantik. Jadi ke pasar ya, memang harus rapih dan cantik. Kalau ada yang tertarik kan bisa langsung kenalan di pasar itu,” ujarnya sambil tersipu malu.

 

 

 

 

Disadur dari : Nak Seperti Orang Kota; Peran Masyarakat Kelas Menengah Atas dan Kelas Menengah Dalam Perubahan Pola Konsumsi Dan Gaya Hidup Di Desa Segamai. (Penulis : Widiningsih, UI Depok 2016)

Foto Ilustrasi : ledysimanjuntak.wordpress.com