“Mak, makanan so[1] siap …!,” teriakku di hamparan perkebunan siang itu.

“Se bunyi jo tu tatengkoran”[2], sahut mama.

Tong tong tong …! Alat pemanggil tradisional dari batang bambu itu dibunyikan. Waktu menunjukan pukul 10.30 wita. Para pekerja yang sedari tadi mencangkul, berhamburan menuju sabua[3] tempat makan siang disajikan.

Beberapa waktu ini kami sedang mapalus, semacam teknik kerja sama dalam tradisi leluhur Minahasa. “Brenti dulu bapacol! Makang dulu …![4] kata salah satu om mengingatkan yang lain. Aku selalu membantu papa dan mama berkebun, apalagi kalau sedang liburan kuliah seperti ini.  Oya, aku kuliah di kota Manado, berjarak kira-kira dua jam waktu tempuh dari kampungku.

Hari itu om dan tante yang bekerja, ada sekitar 15 orang. Kegiatan kami masih mencangkul. Besok akan mulai menanam benih padi. Semua dilakukan bersama-sama, baik pria maupun wanita. Keluargaku kali itu sebagai tuan rumah, berkewajiban menyediakan makan siang dan snack sore. Kami akan bergiliran bekerja dari kebun milik keluarga yang satu ke yang lain.

Sistem kerja seperti ini sangat menyenangkan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kalau melihat wajah orang yang bekerja, tidak kelihatan raut beban sama sekali. Kami semua bekerja dengan sukacita. Serasa yang dikerjakan adalah kebun milik sendiri. Inilah yang namanya gotong royong.

Hal menyenangkan lainnya, sambil bekerja biasanya akan ada 1 orang yang memimpin nyanyian. Lalu yang lain akan saling sahut menyahut dengan alunan suara bak orkestra di tengah kebun, mulai dari  sopran sampai alto, dari tenor sampai bass. Kami juga melakukan balas pantun, yang diakhiri dengan penuh gelak tawa. Waktu jadi tidak terasa berlalunya. Pekerjaan berat terasa ringan.

Tong tong tong …!

“Kopiii …,” teriakku sambil membunyikan tatengkoran.

Pukul 13.30 wita, waktunya istirahat sore. Semua meletakkan cangkul milik masing-masing, menikmati kopi dan pisang goreng goraka hangat, tidak ketinggalan dabu-dabu colo[5]. Rasa lelah, ditambah suasana kekerabatan yang sangat kental  membuat penganan sore itu terasa nikmat. Torang bilang, adodo pe sadap sekali![6]

(Foto Ilustrasi: sulutuniqueness)

 

[1] Sudah

[2] Bunyikan saja kentongannya

[3] Gubuk

[4] Berhenti dulu mencangkul. Makan dulu.

[5] Sambal khas Manado

[6] Kami bilang, aduh sedap sekali!