08 111 0 888 54 humas@warganegara.org

Lajunya perkembangan teknologi memang membawa dampak positif. Di sisi lain, kondisi itu membentangkan jurang bagi kalangan ekonomi menengah dan penyandang disabilitas.

Namun, kondisi tersebut tak lantas mematahkan semangat Eustokia Maria Magdalena. Meski mengalami tetraplegia (cedera di tulang leher belakang dan lumpuh dari bawah leher), Eustokia atau akrab dipanggil Airin (34), punya kepedulian yang dalam terhadap sesama penyandang disabilitas.

Dia menjadi pengajar di bawah naungan Precious Family, yakni sebuah perkumpulan bagi kaum disabilitas dan orang tua disabilitas sejak tahun 2016. Airin mengajar muridnya penyandang Cerebral Palsy (CP) melalui pengajaran daring, yaitu messanger.

Bagi Airin, pengajaran daring tidaklah sesulit yang dibayangkan. Hanya dengan kemampuan mengoperasikan gawai; seperti BBM, Whatsapp dan LINE, belajar mengajarpun bisa dilakukan.

Meski murid penyandang disabilitas mendapat pelajaran daring, Airin juga menjelaskan bahwa  sistem belajarnya tetap memiliki sistem belajar tatap muka dengan pengajar lainnya.

Dalam menjalani perannya sebagai pengajar, Airin mengakui tantangan terbesarnya adalah ketika mencari metode belajar yang menarik dan kreatif, sehingga anak-anak bisa menikmati proses belajar dan mengalami kemajuan dalam belajar.

Pendidikan daring bagi kaum disabilitas tentu akan membekali diri mereka untuk siap bekerja di era digital atau serba internet.

Kesiapan bekerja di era digital ini memang benar-benar dibutuhkan kaum disabilitas, terlebih lagi mereka juga harus menyiapkan kebutuhan mereka sendiri.

Airin menjelaskan bahwa dalam kondisi tetraplegia, sulit baginya untuk bekerja di kantoran. Disitulah kemudian muncul ide bisnis daring di tahun 2009 sebagai usaha sampingan selain sebagai penerjemah.

Semangat Airin untuk memandirikan diri sendiri tidak berhenti di dirinya. Banyak orangtua disabilitas yang turut membantu, baik menjual produk bisnis online hingga bergabung membuat produk-produk makanan.

Kisah Airin menunjukkan kondisi disabilitas bukan penghalang untuk berkontribusi menjadi warga negara yang baik. Justru dari rasa persamaan dan kepeduliannya, ia memperjuangkan hak-hak kesetaraan disabilitas untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan.

Berbekal niat yang mulia dan kecerdasan melihat peluang dari akses internet, Airin berjuang memaksimalkan keahliannya serta turut memberdayakan kaum disabilitas lainnya untuk bersama-sama hidup mandiri.

Airin telah memberi teladan untuk mendukung kemajuan anak-anak disabilitas yang juga bagian dari generasi penerus bangsa.

Jadi, mari sokong upaya yang dilakukan Airin, denngan turut menyumbang peran melalui bidang apapun yang kita geluti.