Dengan sinar matahari yang menyengat, pagi itu aku menyusuri jalan di perkampungan Iban. Ada saja rupa-rupa kesahajaan yang aku temukan di sana. Sepanjang sungai misalnya, ada kaum ibu yang sedang mencuci baju dan beras untuk di masak. Mereka saling bercerita dan sesekali tertawa lepas. Anak-anak, asyik menceburkan diri ke sungai sambil bermain. Pemandangan yang jarang aku temukan sehari-hari.

Kehidupan masyarakat Iban bisa dibilang bagaikan dua sisi mata koin yang berbeda. Di satu sisi mereka tinggal di wilayah hukum Republik Indonesia, namun di sisi lain mereka memiliki ikatan kekerabatan, kesamaan kultural, dan sejarah masa lalu dengan orang-orang Iban di Sarawak – Malayasia. Indonesia, tapi Malaysia. Malaysia, tapi Indonesia.

Tinggal di wilayah perbatasan bukan berarti mereka memiliki akses yang berlimpah. Sebaliknya, minimnya perhatian pemerintah dan keterpinggiran yang ekstrim menjadi makanan sehari-hari. Ku temui Pak Hen, salah satu penduduk yang mengeluhkan sarana pendidikan di kampung. “Sebenarnya kalo anak sekolah di sini ndak banyak, hanya belasan. Karena kalo udah kelas empat itu harus pindah ke kota, karena disini dia tidak mampu. Gurunya pun tak tanggung jawab, anak-anak ditinggal dalam kelas, mereka pulang ke rumah, nunggu anak-anak itu siap baru datang lagi. Macam Pak Wisnu itu, bisa berbulan-bulan tidak mengajar padahal dia Kepala Sekolah.”

Selain keterpinggiran secara fisik, orang Iban juga harus berhadapan dengan berbagai macam stereotype dari masyarakat yang menempatkan mereka sebagai orang-orang hulu yang tertinggal dan primitif.  Salah satunya dialami oleh Pak Jimmy ketika ia mencoba kesempatan bekerja sebagai penebang kayu di perusahaan Taiwan di daerah Kapuas. Tak jarang ia mendapat perlakukan yang kurang menyenangkan dari orang-orang Melayu Indonesia. Rupanya mereka tak nyaman bekerja dengan orang Iban yang notabene memiliki banyak tato di tubuhnya. “Jadi waktu itu Bapak pernah bekerja untuk perusahaan dari Taiwan. Setelah Bapak bekerja, ternyata ada juga orang Melayu Indon. Jadi mereka ndak mau ngomong sama Bapak. Bapak pikir, kenapa mereka itu kok diam? Jadi ternyata mereka itu memang takut karena Bapak dan kawan-kawan Iban itu kan punya pantang. Jadi itulah, mereka ada yang menganggap kita ini orang Ulu suka makan semut, makan orang … gitulah,” ujar Pak Jimmy.

Tak sedikit para pemuda Iban yang mengadu nasib ke tanah seberang. Bahkan, ketika berhasil mereka enggan kembali ke tanah air, karena rumput tetangga memang selalu lebih hijau dibandingkan rumput di tanah sendiri.

 

 

 

 

Disadur dari: Menjadi orang indonesia di perbatasan (Sebuah kajian mengenai dinamika identitas pada komunitas Iban kanyau di wilayah perbatasan kalimantan Barat – Sarawak) – Rhino Ariefiansyah, Depok – UI.